Jumat, 28 Mei 2010

BERKATA BAIK ATAU LEBIH BAIK DIAM, SERTA MEMULIAKAN TAMU

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.

[Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]


Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)

dan firman-Nya:
“Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS. Qaff : 18)

Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

Beliau juga bersabda :
“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

Sebagian ulama berkata: “Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; “Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.
Allah berfirman :
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)

Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.

Kalimat “hendaklah ia memuliakan tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur’an keharusan berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Jibril selalu menasehati diriku tentang urusan tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya”.

Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.

Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”. Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.

Selanjutnya ia berkata : Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.



Hadits Arba'in An-Nawawi
Dengan Syarah Ibnu Daqiqil 'Ied

Rabu, 26 Mei 2010

Rasul SAW Memerintahkan Perbuatan Sesuai Kemampuan

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ اْلَأعْمَالِ بِمَا يُطِيْقُوْنَ قَالُوْا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ اْلغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

( صحيح البخاري )

" Bahwa Rasulullah Saw jika memerintahkan mereka ( para sahabat dan ummat beliau Saw ) maka beliau memerintahkan perbuatan-perbuatan menurut kemampuan mereka, maka para sahabat berkata: " Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang ( mestinya kami lebih banyak ibadah darimu ), maka murkalah Rasul Saw hingga terlihat jelas di wajah beliau Saw, seraya bersabda: " Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku". ( Shahih Al Bukhari )


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah Swt dan kita bersyukur dengan kehadiran kita di majelis ini, dengan berkumpulnya kita disini semoga kita berkumpul pula dihadapan Rasulullah Saw di yaumul qiyamah, berhadapan langsung dengan Rabbul 'alamin Yang Maha Dermawan dan Maha Melimpahkan anugerah, Yang telah memilih kita termasuk dalam jumlah hadirin yang hadir disini didalam dzikir, didalam shalawat, didalam perkumpulan ilmu dan pembahasan hadits-hadits sang Nabi Muhammad Saw, perkumpulan luhur yang menjadi bekal untuk kita bisa berkumpul kembali dengan sang pembawa rahmatan lil'alamin Sayyidina Muhammad Saw, kelak di padang mahsyar betapa beruntungnya orang-orang yang berkumpul bersama beliau, jumlah mereka jutaan atau mungkin lebih, orang-orang yang di dunia mencintai sayyidina Muhammad Saw maka di akhirat bersama sayyidina Muhammad Saw, karena seseorang akan berkumpul bersama orang yang ia cintai. Maka, Rabbi pastikan seluruh wajah kami berkumpul kembali di majelis Rasulullah di hari kiamat, dan kita selalu berkumpul sebagaimana kami selalu berkumpul dalam majelis ini, ada yang hadir setiap malam, ada yang hadir setiap minggu, ada yang hadir setiap bulan, ada yang baru beberapa kali hadir, ada yang baru pertama kali hadir, semoga kesemuanya kelak selalu hadir di istana Rasulullah Saw di yaumul qiyamah, istana yang paling megah dari semua istana-istana di surga, istana yang paling mewah dan paling dekat dengan Rabbul 'alamin, dan disitulah tempat tinggal Muhammad Rasulullah Saw di surga, menerima tamu-tamunya, para pecintanya di dunia, khususnya mereka yang belum sempat berjumpa dengan beliau di muka bumi akan diprioritaskan untuk sering berjumpa dengan beliau di yaumul qiyamah karena mereka telah mencintai nabi dan merindukan nabi serta mengikuti nabi Muhammad Saw semampunya walaupun mereka tidak berjumpa dengan nabi, maka mereka memiliki nilai tambah atas kerinduannya dengan sambutan hangat dari nabi Muhammad Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Air mata tangisan rindu dari pecinta Rasulullah tiada akan pernah berhenti sepanjang waktu dan zaman, ingin berjumpa dengan sang nabi Saw, mereka ingin melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling baik, disana sini dimusuhi, difitnah, dipersulit, dicaci dan dimaki, sudah banyak wajah-wajah yang bosan melihat dunia dan ingin segera melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling menyambut para tamunya, yang dikatakan:

لَوْ جَاءَ عَبْدٌ مُلَطَّخٌ بِالذُّنُوْبِ لَقَالَ لَهُ أَهْلًا وَمَرْحَبًا

( Jika datang kepada beliau seorang hamba yang berlumur dosa beliau akan menyambut hangat dengan mengucapakan " ahlan wa marhabaa" ), demikian budi pekerti Muhammad Rasulullah Saw. Entah apalagi artinya siang dan malam, matahari dan bulan, kaya dan miskin, menjadi pejabat ataupun menjadi rakyat, menjadi pengusaha atau pedagang dan lainnya dibandingkan dengan indahnya duduk bersanding dan berhadapan langsung wajah dengan wajah, mata dengan mata, saling pandang dengan sayyidina Muhammad Saw, saling senyum dengan sayyidina Muhammad dan memeluk tubuh nabi Muhammad Saw dan mengadukan keluh kesah kehidupannya di dunia dari kesulitan yang dilewati, musibah yang dilewati, mengadukannya kepada manusia yang lebih lebih lembut dan lebih berkasih sayang dari ibunda kita, sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin hadirat, maka pujilah Allah Swt sebanyak-banyaknya yang dengan itu kehidupan kita terpuji, dan Allah Swt menyukai pujian dan tidak menyukai dosa-dosa dan kehinaan. Rasulullah Saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari :

لَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلِذَلِكَ حَرَّمَ اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحَ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

( صحيح البخاري )

" Tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia mengharamkan segala yang keji, dan tidak ada yang lebih suka dipuji selain dari Allah Swt, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri". ( Shahih Al Bukhari )

Maka beruntunglah orang-orang yang memuji Allah Swt, dan Allah Swt membenci dosa-dosa, oleh sebab itu Allah mengharamkan perbuatan dosa. Mengapa Allah Swt suka dipuji?, karena Allah tau bahwa pujian itu datang dari cinta. Jika seorang hamba mencintai sesuatu maka pastilah ia banyak memujinya, jika seorang hamba memuji Allah, maka ia pun dicintai Allah. Seseorang yang melaksanakan shalat maka ia telah banyak memuji Allah, dan ia termasuk orang yang banyak memuji Allah dan ia juga termasuk orang yang dicintai Allah jika ia mendalami makna ucapan-ucapan dalam shalatnya. Oleh sebab itu, sebagian para shalihin sebagaimana dijelaskan oleh para guru kita bahwa mereka sangat asyik memuji Allah didalam shalatnya dan disaat mereka I'tidal mereka mengucapkan :

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

"Wahai Rabb kami, bagiMu segala puji, aku memujiMu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu"

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa ucapan ini adalah ucapan salah seorang sahabat, ketika ia sedang bermakmum kepada Rasulullah Saw bersama sahabat lainnya. Ketika Rasulullah mengucapkan " Sami'allahu liman hamidah " untuk I'tidal, maka sahabat itu mengucapkan:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ ... إلخ

Tanpa ada yang mengajarinya, tetapi muncul dari hatinya maka Rasulullah selesai shalat bertanya: siapa tadi yang mengucapkan : ربنا لك الحمد حمدا كثيرا... إلخ?, salah seorang sahabat mengacungkan tangan dan berkata: " aku wahai Rasulullah ", maka Rasulullah berkata: " Jibril tadi mengatakan kepadaku bahwa puluhan malaikat berebutan mencatat pujianmu itu, untuk disampaikan kepada Allah Swt".

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketika kita menikmati pujian kepada Allah dan sedikit bersabar atas diri kita untuk memuji Allah Swt, maka Allah akan memberi kenikmatan dan kelezatannya, jika kita sudah merasakan lezat memuji Allah maka tentunya kita akan selalu asyik memuji Allah Swt, yang dengan itu Allah Swt akan membuat kehidupan kita semakin terpuji dunia dan akhirah, dan sang penuntun segala keterpujian dari tuntunan yang terpuji, hamba Allah yang paling terpuji, Muhammad Saw. Namanya saja Muhammad yang berarti yang banyak dipuji atau yang banyak memuji. Nabi kita Muhammad memang orang yang paling banyak dipuji karena ia dipuji oleh Allah Swt dan oleh seluruh hamba Allah yang beriman.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu Allah Swt menyukai pujian, dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Kalau kalimat ini kita paparkan sedikit, ada orang-orang kaya yang suka dipuji dan jika ia dipuji maka ia akan memberi hadiah kepada orang-orang yang memujinya, dan tentunya Allah Swt lebih dari itu, kalau Allah dipuji maka Allah akan memberi yang lebih untuknya. Allah tidak butuh pujian, namun Allah Maha Tau bahwa dengan pujian itu maka hamba-Nya mencintai-Nya. Sebagian Ahli ma'rifah billah mewarisi dari apa-apa yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Rasulullah juga suka dipuji, kenapa? karena memuji Rasulullah Saw akan membuat orang yang mendengarnya bertambah cinta kepada Rasul Saw, beliau bukan suka dipuji untuk pribadinya tetapi karena orang-orang yang banyak memuji itu bisa bertambah cintanya kepada Rasulullah Saw, dan mencintai Rasulullah Saw adalah kesempurnaan iman. Rasulullah tidak suka dipuji, karena sudah terpuji di hadapan Allah Swt namun dengan banyak memuji Rasulullah Saw maka seseorang akan sampai kepada kesempurnaan iman, sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

" Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia"

Dan dalam riwayat lain:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

" Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian daripada keluarga, harta dan segenap manusia"

Tentunya iman mempunyai derajat, terkadang kita berangan-angan bahwa sungguh berat jika kita mencintai Rasul lebih dari keluarga atau harta kita sepertinya adalah derajat yang sangat susah sekali dicapai, tidak juga!. Kita semua disini sudah mencapai hal itu, kita hadir disini karena cinta kepada Rasul Saw dan sekarang kita meninggalkan keluarga dan harta kita, rumah kita tinggalkan, dan kita duduk disini setelah itu kita kembali kepada keluarga dan harta kita, kita tinggalkan untuk hadir disini, padahal kita tidak melihat sang Nabi, bagaimana kalau seandainya kita melihat sang Nabi, barangkali sehari sebelumnya, atau seminggu sebelumnya atau sebulan atau mungkin setahun sebelumnya masjid ini sudah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat wajah Rasulullah Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah Swt sangat mencintai kita, dan tidak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah Swt. Mungkin kita kaget ketika mendengar Allah pencemburu, maksudnya apa?, cemburu itu datangnya dari cinta, cemburu itu adalah ingin kekasihnya selalu dekat dengannya dan jangan jauh darinya, jika saja ada gerakan atau ucapan yang membuat kekasihnya jauh, maka ia akan marah itulah sifat cemburu. Hadirin hadirat, ternyata Allah itu cemburu kepada hamba-hamba-Nya, oleh sebab itulah Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat, kenapa Allah mengharamkan perbuatan dosa?, karena dengan perbuatan dosa hamba-Nya akan jauh dari Allah dan Allah tidak mau hamba-Nya jauh dari-Nya, Allah ingin kita dekat, Allah tidak ingin kita berbuat buruk hingga menjauh dari Allah, Allah ingin kita berada dalam kasih-Nya, ketika berbuat hal-hal yang tidak disukai Allah maka ia akan terkena dosa, kenapa? karena Allah ingin hamba-Nya jauh dari dosa karena cinta-Nya kepada kita. Kita lihat, jika seandainya Allah Swt tidak cinta kepada kita, maka sekali seorang hamba berbuat dosa dan dicabut nyawanya sehingga wafat dalam su'ul khatimah sekali berbuat dosa. Tetapi Allah cinta kepada hamba-Nya, sekali ia berbuat dosa maka ditunggu barangkali beristighfar, dihadirkan di majelis dzikir dan majelis ta'lim maka ia akan mendapat pengampunan dan mendekat lagi kapada Allah, sungguh indahnya Allah. Dan ketika shalat lima waktu maka terus dihapus dosa-dosanya, ketika ia berwudhu maka ia mendapat penghapusan dosa, memuji Allah ia mendapat penghapusan dosa, selesai shalat ia membaca subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x maka ia mendapatkan lagi penghapusan dosa. Di hari Jum'at, antara Jum'at satu dengan Jum'at lainnya mendapat penghapusan dosa, ketika tiba bulan Ramadhan mendapat penghapusan dosa lagi, ketika puasa Arafah mendapat pengampunan lagi, ketika puasa 'Asyura mendapat pengampunan lagi, terus pengampunan mengejar kita. Seorang hamba yang malas beribadah, tapi ia banyak berbuat baik kepada saudaranya maka diberi pertolongan oleh Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika seorang hamba sudah kalah seluruh pahalanya oleh dosa-dosanya, lalu ia berkata: " dulu aku banyak membantu orang susah, jika seseorang meminjam kepadaku dan ia adalah orang yang susah maka tidak aku tagih, jika seseorang berbelanja kepadaku dan dia orang yang tidak punya maka aku murahkan lebih dari harga yang semestinya, maka beri aku keringanan", maka Allah Swt menjawab: " Aku lebih berhak daripada engkau untuk berbuat hal itu, biarakan hamba-Ku masuk ke surga-Ku ". Demikian indahnya Allah Swt.

Hadirin hadirat, alangkah besarnya keinginan Allah agar kita dekat dengan-Nya, alangkah baik dan cintanya Allah kepada kita, namun betapa kita tidak mau menjawab cinta Allah Swt kepada kita. Kapan kita mau menjawab cinta itu, kapan mau kita jawab kasih sayang itu, maka bersujud dan banyak berdzikirlah kepada Allah, banyak berdoa dan memohon pengampunan kepada Allah Swt, memohonlah ridha dan restu atas nafas-nafas yang lewat daripada rindu kepada Allah Swt. Nafas yang tidak sempat rindu kepada-Mu wahai Rabbi maafkanlah, semestinya setiap nafasku ini dipenuhi rindu kepada-Mu dari kebaikan dan keindahan-Mu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits mulia, dimana Rasul Saw jika memerintahkan sesuatu perintah kepada sahabat atau ummatnya, pastilah memerintah sesuatu yang mereka mampu. Rasul tidak mau memerintahkan lebih dari kemampuan mereka. Maka suatu ketika beberapa sahabat berkata kepada Rasul Saw:

إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

" Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang"

Maksudnya, kalau engkau ( Rasulullah) sudah dijamin pengampunan dosa dari Allah, sedangkan kami tidak demikian maka kami harus lebih banyak beribadah daripada engkau. Maka wajah Rasulullah berubah menjadi marah dan berkata:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

" Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku"

Maksudnya adalah seseorang atau ummat yang telah dipilihkan oleh sang nabi suatu ibadah maka jangan berusaha untuk mencari pendapat yang lebih lagi, sebagaimana dijelaskan oleh sayyidina Jabir bin Abdillah Ra bahwa Rasulullah Saw ingin mempermudah ummatnya, maka jangan mencari yang sulit-sulit , Rasul tidak menyukai kesulitan pada ummatnya, banyak sekali riwayat yang muncul dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu, diantaranya: diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika sayyidina Abdullah bin Umar berpuasa setiap hari, dan setiap malam ia menghatamkan Al qur'an dalam usia muda, maka dipanggil oleh Rasul berkata: " engkaukah yang puasa setiap hari, dan setiap malam melakukan qiyamullail dan menghatamkan alqur'an ", maka Abdullah bin Umar berkata: " betul wahai Rasul", maka Rasul berkata: " Jangan lakukan hal itu, cukup engkau puasa tiga hari sebulan karena hal itu adalah puasa seumur hidup", karena setiap kali puasa pahalanya sepuluh kali lipat, jadi puasa sehari sama dengan puasa sepuluh hari, puasa tiga hari sebulan maka seperti puasa 30 hari ( sebulan ), maksudnya Rasul adalah " jika kamu ingin berpuasa setiap hari cukuplah berpuasa 3 hari setiap bulan, dan pahalanya sama dengan puasa setahun penuh karena 3 hari puasa pahalanya 30 hari, alangkah indahnya tuntunan sayyidina Muhammad Saw. Maka Abdullah bin Umar berkata: " wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu", maka Rasul berkata: " kalau begitu 3 hari dalam seminggu ", Abdullah bin Umar berkata lagi: " wahai Rasulullah aku mampu lebih dari itu", demikian terus Abdullah bin Umar meminta lebih kepada Rasul, akhirnya Rasul berkata: " sehari puasa dan sehari tidak puasa, itu adalah puasa nabi Daud dan tidak ada lagi yang lebih dari itu". Maka Rasulullah Saw tidak menyetujui sayyidina Abdullah bin Umar untuk berpuasa lebih dari puasanya nabi Daud As, kenapa? karena beliau masih muda, kalau sudah lanjut usia beda lagi, boleh-boleh saja jika ia berpuasa setiap hari. Jika masih muda terbukti dari ucapan sayyidina Abdillah bin Umar, didalam riwayat ia berkata: "sungguh aku menyesal karena sudah dinasihati sang Rasul dan diberi keringanan tetapi aku tetap meminta tambah, hingga aku merasa belum lanjut usiaku aku sudah merasa lemah sekali tubuhku, karena sudah terlalu banyak berpuasa di siang harinya ketika masa mudanya dan banyak qiyamullail di malam harinya, alangkah beruntungnya jika aku terima saran dan keringanan-keringanan dari sang nabi Muhammad Saw". Maksudnya, untuk pemuda boleh banyak beribadah tetapi jangan terlalu berlebihan karena jika berlebihan maka akan membuat ia lemah di masa tuanya, dan menjadi lemah untuk beribadah di masa tua padahal itu adalah waktu-waktu yang semakin dekat menjelang wafat. Namun jangan salah pengertian, sebagian ada yang berkata: " tidak usah shalat dulu kan masih muda", hati-hati dengan hal-hal yang fardhu, hal-hal yang fardhu berbeda dengan hal yang sunnah, hal yang sunnah tetap kita amalkan namun jangan yang berat-berat. Puasa Senin-Kamis mungkin terlalu berat, maka puasa 3 hari dalam sebulan itu sudah termasuk sunnah nabi Muhammad Saw, jangan ditambah lebih dari itu lagi sampai puasa setiap hari terus tanpa dibatalkan, maka hal itu akan melemahkan kita. Kalau seandainya bangun di malam hari, maka sisakan 1 atau 2 jam untuk beristirahat, demikian indahnya tuntunan sang nabi Muhammad Saw.

Perkataan Rasulullah Saw:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

Maksudnya adalah jika telah diberi keringanan oleh Rasul Saw maka jangan mencari yang sulit, karena Rasul Saw selalu memilihkan yang paling ringan untuk kita. Hadits ini dipakai oleh sebagaian saudara kita untuk tidak menambah-nambahi ibadah, dari dahulu tidak diajarkan maulid kok sekarang diadakan maulid, Rasul tidak mengajarkan maulid dan lain sebagainya. Maulid tidak menyusahkan kita, maulid bahkan membuat kita gembira, berbeda jika kita menyusahkan diri kita misalnya ketika tiba maulid nabi kita berpuasa 1000 hari, atau kita berdiri saja 24 jam tidak bergerak, berdiri saja karena gembira dengan kelahiran sang nabi, dari subuh sampai maghrib berdiri, tentunya hal itu menyusahkan dirinya, maka sesuai dengan hadits ini. Tetapi jika mengadakan acara silaturrahmi besar, bangkitkan lagi semangat muslimin , menjamu muslimin, bersilaturrahmi, bershalawat dan berdzikir bersama, maka hal seperti itu adalah hal yang mulia, dan hal itu tidak memberatkan muslimin. Kecuali jika seandainya mau mengadakan maulid maka semua masyarakat harus menjual rumahnya untuk perayaan maulid, tentunya tidak. Untuk bangun toilet saja 10 juta , kalau untuk maulid 10 ribu saja dikatakan mubadzzir, padahal untuk syiar Allah, tetapi jika untuk membuat toilet hingga puluhan juta dianggap tidak mubadzzir wal'iyadzubillah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah Saw adalah pembawa keluhuran, tadi kita dengar bagaimana Abdullah bin Umar mengatakan: " alangkah indahnya jika aku terima keringanan-keringanan dari sang nabi". Rasulullah Saw jika dipilihkan antara dua hal maka beliau akan memilih sesuatu yang lebih ringan untuk diperbuat oleh ummatnya. Rasulullah Saw bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمْرُتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

"Kalau seandainya tidak akan menyusahkan umatku akan aku perintah mereka untuk bersiwak disetiap akan shalat “.

Subhanallah, padahal shalat memakai siwak pahalanya 70 kali lebih besar, sebagaimana sabada Rasulullah Saw:

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ

"Dua rakaat shalat dengan bersiwak itu terlebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak"

Rasul ingin ummatnya sampai ke derajat itu, hingga shalatnya dilipatkan 70 kali lebih besar . Tetapi beliau tidak mau memaksakan ummatnya, akhirnya ummatnya repot kesana kemari mencari siwak, jika siwak diwajibkan dalam setiap shalat, dan tiba-tiba ketika akan melaksanakan shalat dan lupa dimana siwaknya maka ia akan mencarinya hingga ketemu, orang lain sudah takbiratul ihram dan hampir selesai shalat, ia pun masih sibuk mencari siwak yang akhirnya harus pergi untuk membeli siwak, Rasul Saw tidak ingin hal ini terjadi pada ummatnya, yang memiliki siwak pergunakanlah dan yang tidak memilikinya sungguh tidak ada kewajibannya, alangkah indahnya sayyidina Muhammad Saw.
Hadirin hadirat, didalam mencari ilmu tentunya merupakan hal yang sangat penting bagi kita, kehadiran kita di malam hari ini barangkali tadi hujan turun, hati saya juga risau barangkali banyak sekali yang tertahan tidak bisa hadir dikarenakan hujan, namun Alhamdulillah Allah Swt menguatkan sebagian dari kita untuk tetap hadir, dan mereka yang tidak bisa hadir semoga mendapat pahalanya, dan mereka yang hadir semoga Allah jadikan setiap tetes air hujan yang mengenai tubuhnya menyaksikannya di yaumul qiyamah bahwa ia melangkah ke jalan yang luhur.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan didalam musnad imam Ahmad dan didalam Ma'jam Al Kabir oleh Al Imam At Thabrany tentang Sayyidina Jabir bin Abdillah Ra, ia mendengar ada satu hadits yang belum pernah ia dengar, yaitu pada sayyidina Abdullah bin Unays di Syam. Syam adalah wilayah antara Iran dan Jordan yang mana perjalanan satu bulan dengan onta. Maka ia pun membeli onta dan berjalan menuju rumah Abdullah bin Unays untuk mendengarkan satu hadits yang belum pernah ia dengar itu, satu hadits saja. Kalian kesini berapa banyak hadits yang telah kalian dengar sejak tadi. Satu bulan perjalanan naik onta, berarti menginap dalam perjalanan selama 30 malam, kita belum pernah merasakan perjalanan selama satu bulan, kalau dengan pesawat jarak yang terjauh bisa ditempuh dengan beberapa hari saja.

Maka bagaimana dengan perjalananan satu bulan, apalagi menggunakan onta, beliau berjalan sendiri terus beliau menyusuri jalan sendiri, berhenti, berkemah, makan dan minum kemudian melanjutkan perjalanan lagi demikian selama satu bulan, berapa bekal yang harus ia bawa, berapa uang yang harus ia bawa, bagaimana ia melewati hari-harinya dalam panas terik matahari, melewati hutan dan padang pasir selama satu bulan perjalanan hanya untuk satu haditsnya Rasulullah Saw yang belum ia tau. Maka sesampainya di Syam, ia berkata kepada salah seorang pelayan Abdullah bin Unays Ra: " Katakan kepada tuanmu, bahwa Jabir bin Abdillah menunggu di depan pintu ", maka Abdullah bin Unays datang seraya menyambutnya dan mereka saling berpelukan, kemudian Abdullah bin Syin berkata: " wahai Jabir, apa yang membuatmu jauh-jauh dari Madinah datang kesini?, maka Jabir bin Abdillah berkata: " aku dengar engkau mempunyai satu hadits yang belum diajarkan kepada banyak orang, aku mau mendengar hadits itu ", Abdullah bin Unays berkata: " wahai Jabir, satu bulan perjalanan engkau kesini hanya untuk satu buah hadits?!, ia berkata: " aku takut wafat sebelum aku mendengarnya, maka jangan sampai hal itu terjadi". Beliau ingin menambah ilmu haditsnya walaupun hanya satu, sampai-sampai ia takut keburu wafat dan belum mendengarnya. Kita sekarang telah memiliki bermacam-macam bahkan telah dibukukan, ribuan bahkan jutaan hadits. Dalam 1 kitab Shahih Al Bukhari terdapat 70 ribu hadits, hadir di majelis ini malam selasa ada kajian Shahih Al Bukhari dan lainnya, majelis-majelis ta'lim yang lain, ada majelis tafsir, majelis fiqh, apalagi yang digabung dengan shalawat dan dzikir atau maulid nabi Saw, maka akan tumpah ruah zhahir dan bathin ilmu fiqh nya, tafsir, hadits dan lainnya, dan juga pengampunan dan kedekatan kepada Allah Swt.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan bahwa seseorang datang bertanya kepada Al Imam Malik Ra. Beliau adalah seorang Imam besar di Madinah Al Munawwarah, datang seseorang yang sorbannya sangat besar, Al Imam tau di masa itu jika seseorang sorbannya semakin besar maka semakin banyak ilmunya. Suatu ketika datang kepada beliau seseorang yang sorbannya sangat besar, dan ketika itu Imam Malik sedang duduk dengan menyelonjorkan kakinya sedang duduk santai bersama beberapa muridnya karena bukan di waktu mengajar, ketika orang itu muncul dihadapannya Al Imam pun segera menarik kakinya seakan-akan beliau duduk tawarruk karena ia menyangka yang datang adalah Ulama besar. Maka orang itu berkata: " Assalamu'alaikum, wahai Imam Malik aku datang untuk bertanya ", Al Imam menjawab: " Labbaik wa sa'daik, iya silahkan apa yang akan kau tanyakan semoga aku bisa menjawabnya?", orang itu berkata: " wahai Imam bagaimana jika esok matahari tidak lagi terbit?", maka Imam Malik diam lalu tersenyum dan berkata: " kalau besok matahari tidak terbit berarti aku boleh melonjorkan kakiku lagi", maksudnya apa? Jika ia bukan orang yang tidak waras berarti ia bukan ulama, masa iya menanyakan jika matahari tidak terbit kepada Imam Malik, maka ia bukanlah ulama yang bertanya hal yang demikian itu. Demikianlah Al Imam Malik bin Anas bin Malik yang mengambil sanadnya dari Al Imam Ja'far bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib suami Fathimah Az Zahra' putrid Rasululllah Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Makna dari yang saya sampaikan tadi adalah tidak semua pertanyaan harus dijawab. Jika muncul pertanyaan dari musuh-musuh Islam atau orang-orang yang tidak waras dan lainnya, maka tidak perlu semua pertanyaannya dijawab karena hal yang demikian telah diperbuat oleh para imam terdahulu, buktinya Imam Malik melakukan demikian, ketika ditanya " jika matahari tidak muncul besok", maka beliau santai saja menjawabnya sambil bercanda dan tertawa tidak serius menjawabnya, tidak perlu dihoramati sebgaimana penghormatan kepada ulama', karena penghormatan pada Ulama' sebagaimana dijelaskan oleh para muhadditsin jika para ulama datang maka dianjurkan untuk berdiri menghormatinya , atau orang shalih atau orang yang lebih tua dan tidak dikenal bahwa ia adalah orang yang fajir atau ia adalah pemimpin muslimin maka disunnahkan untuk berdiri menyambut kedatangannya, demikian pendapat Al Imam An Nawawy, dan Al Imam Ibn Hajar dan lainnya.

Hadirin hadirat, yang juga perlu saya sampaikan adalah sabda Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ

" Tidak beriman seorang dintara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya dari kebaikan ".
Sebagaimana ia tidak menyukai musibah, maka ia ingin saudara muslim yang lain juga tidak terkena musibah, jika ia tidak ingin diganggu maka ia juga tidak mau mengganggu orang lain.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu diantara maslah yang muncul di majelis kita adalah banyaknya keluhan tersendatnya jalan karena kedatangan jama'ah, tentunya hal ini tidak bisa dihindari . Jika ada orang yang protes seperti itu, tentunya perlu kita dengarkan dan kita benahi semampunya dan diluar dari kemampuan kita maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau di pasar-pasar atau di mall-mall sama juga macet, tetapi kenapa jika pengajian justru diprotes, perkumpulan ini bukan perkumpulan orang-orang tawuran, bukan juga mau merampok atau merusak tetapi perkumpulan orang-orang yang mau ngaji, mau belajar, masih beruntung dengan adanya pengajian-pengajian besar maka kriminalitas di Jakarta semakin berkurang, hal ini diakui oleh Kapolda Metrojaya yang selalu memberi nasihat kepada kita, dan selalu membantu mengarahkan semua Kapolres untuk turut membantu ketertiban Majelis Rasulullah, karena ini adalah gerakan damai, maka akan semakin menurun kriminalitas-kriminalitas di Jakarta dengan semakin berkembangnya majelis-majelis besar seperti ini, namun ucapan-ucapan dari orang yang tidak suka perlu kita perhatikan juga, jika itu adalah kritik membangun maka perlu kita dengarkan, terutama saat konvoi maka jangan pinggirkan orang lain untuk kita lewat, karena jalan umum bukan milik kita. Oleh sebab itu jangan smapi berbuat demikian. Tentunya kita konvoi itu untuk keluhuran, biarkan saja jika ada yang berkata: " kenapa ngaji kok pakai konvoi ", biarkan saja jika tidak mau ngaji maka tidak usah hadir, jika mau ngaji hadir baik ikut konvoi, atau tidak ikut konvoi, mau jalan sendiri atau bersama jama'ah, hal ini tidak ada larangannya dalam syariah, pemerintah pun tidak melarang konvoi, yang dilarang adalah jika tidak tertib. Maka ketertiban yang kita jaga, agar tidak mengganggu orang lain hal itu yang perlu kita jaga.

Dan juga masalah helm, maka yang mampu belilah helm dan pakailah demi keamanan kita, karena banyak peraturan-peraturan lalu lintas itu memang betul-betul untuk keamanan kita, diantaranya helm dan sabuk pengaman, sedikit saya cerita masalah sabuk pengaman karena saya jarang naik motor, ketika mengendarai motor saya sudah kebiasaan menggunakan sabuk pengaman, sebelum ada perintah harus memakai sabuk pengaman saya sudah terbiasa memakai sabuk pengaman, kenapa? karena sering punya kesibukan di mobil, terkadang baca alquran, baca kitab, memegang tasbih dan lainnya, hal itu jika tiba-tiba ada gerakan atau goncangan karena ada lobang atau yang lainnya maka tubuh akan tergoyang, tapi jika memakai sabuk pengaman maka seakan-akan ada yang memegangi sehingga tidak terlalu terguncang, alquran tidak jatuh atau tasbih tidak berantakan juga, jadi saya memakai sabuk pengaman karena saya merasa tubuh ini lebih terpegang itu saja yang membuat saya memakai sabuk pengaman. Suatu waktu pada tahun 2002 memang sudah kebiasaan memakai sabuk pengaman, kebetulan ibunda saya kurang sehat hari itu lebaran kedua, saya kejar dengan kecepatan tinggi 180 km/jam lewat tol jagorawi menuju Cipanas, rumah ibunda saya. Saat itu ada sedikit kesalahan karena sore harinya kanvas rem baru saja diganti barangkali ada yang salah pasang sehingga terjadi kecelakaan, untunglah pengendara saya lebih berpengalaman, jika ia injak rem maka tentunya mobil akan terguling-guling dan akan ditabrak lagi oleh belasan mobil dibelakangnya karena kecepatan yang sang tinggi, maka ia biarkan saja mobil itu kemana larinya, dan dihadapan ada beton yang dipinggiran tol maka beton itu yang ditabrak, yang mana beton itu jika 10 orang yang mengangkat maka tidak akan terangkat, sehingga beton itu terpental sejauh 20 meter karena kerasnya tabrakan itu sehingga membuat seluruh body bagian depan hancur, mesinnya pecah karena dahsyatnya benturan, Alhamdulillah saya menggunakan sabuk dan jika saya tidak memakai sabuk barangkali takdir saya berbenturan dengan beton di depan saya, Alhamdulillah Allah selamatkan dengan sabuk, kita tidak mengatakan bahwa sabuk yang menyelamatkan saya, Allah yang menyelamatkan saya, tetapi sebelum kita bertawakkal kita harus berusaha terlebih dahulu.

Rasul Saw pernah melihat salah seorang sahabat kehilangan keledainya, maka Rasulullah bertanya: "kenapa engkau kehilangan keledai" ? maka sahabat itu menjawab:" ia aku tinggalkan wahai Rasulullah untuk mendapatkan shalat jama'ah, maka Rasulullah Saw berkata: " kau salah, seharusnya kau ikat terlebih dahulu keledaimu barulah kau bertawakkal kepada Allah Swt", maka Allah Swt akan menjaganaya, tetapi jika kita hanya bertawakkal saja tanpa usaha, kok seakan-akan kita ingin memperbudak Allah, Allah kita suruh menjaga kita tanpa kita menjaga diri kita sendiri. Jadi adabnya kita usaha dulu kemudian tawakkal kepada Allah Swt. Dan yang saya lihat kendaraan sekarang tidak seperti kendaraan 10 atau 5 tahun yang lalu yang mana sangat jarang kecepatan motor mencapai 80 km/jam, tapi sekarang bisa mencapai 100 hingga 110 km/jam.

Hadirin hadirat, demi keamanan, ilmu kita,dzikir kita dan kita bisa terus hadir majelis maka kita jaga dan juga jaga ketertiban, sering saya lihat rombongan sepeda menyeberang dengan mengangkatnya, jika menggunakan motor maka tidak bisa menyeberang begitu saja seperti sepeda diangkat oleh adik-adik kita yang masih kecil, adik-adikku hati-hati karena kalian berlawanan arah, mobil yang datang dari arah pasar minggu tidak melihat karena sepeda tidak ada lampu, maka bisa saja terbentur. Jadi adik-adikku berhati-hatilah dan dijaga, jika ampai terjadi sesuatu pada kalian, maka kalian akan dilarang untuk hadir majelis lagi oleh ayah ibumu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita bermunajat kepada Allah Swt, semoga Allah Swt memuliakan hari-hari kita di dunia dan akhirat dan semoga Majelis Rasulullah Saw menjadi pelopor kedamaian dan ketertiban di bumi Jakarta ini, amin. Dan juga kita bermunajat untuk semua saudara-saudara kita yang masih terjebak dalam kehinaan, dosa besar dan kerusakan aqidah semoga Allah hujani mereka dengan kemuliaan dan hidayah, amin allahumma amin. Rabbi, kami telah mendengar firman-Mu didalam hadits qudsy dan sabda nabi-Mu bahwa Engkau sangat mencintai kami sehingga Engkau tidak ingin kami menjauh dari-Mu, Engkau ingin kami selalu dekat dengan-Mu. Rabbi, sungguh hati kecil kami tidak ingin jauh dari-Mu dan selalu ingin dekat dengan-Mu namun dosalah yang menghalangi kami maka singkirkanlah, dan segala kehinaan ini jauhkanlah, jadikan kami semakin dekat ke hadirat-Mu dan semakin luhur, beri kami kesempatan untuk menyaksikan cahaya keindahan-Mu di dunia dan akhirah didalam khusyu', didalam doa, didalam sujud, didalam ruku' , didalam I'tidal, penuhi kami dengan kelezatan memuji nama-Mu Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dzattawli wal in'am. Penuhi sanubari kami dengan rahasia keluhuran, penuhi hari-hari kami dengan kesuksesan, penuhi hari-hari kami dengan kebahagiaan dunia dan akhirah. Diantara kami masing-masing mempunyai hajat, dan adik-adik kami yang akan melewati ujian semoga dipermudah dalam menghadapi ujiannya, dan setelah melakasanakan ujian semoga diberi kelulusan oleh Allah Swt. Yang telah melewati ujian dan yang akan menghadapi ujian semoga diberi kelulusan dan kesuksesan oleh Allah Swt. Allah Swt tidak sekali-kali mengecewakan orang yang berdoa, jika kalian memohon kelulusan kepada Allah kemudian tidak lulus, maka jangan sekali-kali kalian menyalahkan Allah sesekali jangan!, ketahuilah jika sudah berdoa kpeada Allah walaupun tidak diberi kelulusan maka Allah akan memberi kesuksesan setelah kelulusan. Sedemikian banyak orang yang lulus tetapi kehidupannya tidak sukses, banyak juga orang-orang yang lulus dan hidupnya sukses, banyak pula orang-orang yang lulus dan hidupnya sukses, semoga kita dapat yang ketiga yaitu lulus dan sukses, amin allahumma amin. Banyak orang yang sukses di dunia tapi di akhirah menjadi fuqara', banyak orang yang susah di dunia tetapi di akhirah menjadi orang yang sukses, Rabbi jadikan kami orang yang sukses di dunia dan di akhirah, Rabbanaa atinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa 'adzaabannaar…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Tidak lupa kita doakan para habaib kita, para ulama' kita yang hadir pada malam hari ini semoga dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah Swt. Dan Syaikh Yusuf Islam dari Australia terima kasih atas kehadiran beliau dan semoga Allah beri kesuksesan dunia dan akhirah, dan tidak lupa dewan pengurus masjid raya Al Munawwar semoga dilimpahi rahmat dan keluhuran oleh Allah Swt, serta dari kepolisian setempat yang turut mengamankan semoga diberi rahmat dan keberkahan oleh Allah Swt, dan kita semua yang datang kesini penuh dengan dosa, semoga kita keluar dan telah diberi pengampunan, dan barangkali yang datang kesini mungkin ada nama yang masih tertulis untuk melewati api neraka semoga kita keluar dari tempat ini nama-nama kita terhapus dari semua pintu neraka dan dipastikan masuk kedalam surga, amin allahumma amin. Dan juga saya menghimbau bagi yang akan bersalaman nanti setelah doa penutup, dan para krew juga menjaga karena banyak laporan bahwa banyak copet yang hadir di majelis, dan ternyata copet juga bawa jadwal majelis kita, dan yang menjadi incaran utama adalah yang berdesak-desakan, maka berhati-hatilah. Semoga semua copet diberi hidayah oleh Allah Swt, datang kesini berniat untuk mencopet dan setelah keluar bertobat dan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Jika disini mencopet dan keluar dari sini mencopet lagi ( Wal'iyadzubillah ) maka Allah yang akan memperlihatkan musibah di dunia dan di akhirah dalam kesulitan. Semoga para copet yang hadir di Majelis Rasulullah diberi hidayah oleh Allah dan bertobat, amin allahumma amin. Jika tidak bertobat ( wal'iyadzubillah ) maka musibah dan kemurkaan Allah, kecemburuan Allah atas orang-orang yang mengganggu para tamu-tamu kehormatannya.



http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=273&Itemid=30

Ayat Yang paling Menggembirakan Rasulullah saw

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:
لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْه الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ : إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ، مَا تَقَدَّمَ، مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ، وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ، وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ، نَصْرًا عَزِيزًا

( صحيح البخاري )

Sabda Rasulullah saw:
“Sungguh telah turun padaku malam ini surat yang ia lebih kusenangi dan menggembirakanku lebih dari terbitnya matahari’, lalu beliau saw membacakannya : “SUNGGUH KAMI TELAH MEMBUKAKAN UNTUKMU KESUKSESAN YANG GEMILANG, AGAR DIAMPUNI OLEH ALLAH DOSA-DOSAMU YANG TERDAHULU DAN YANG AKAN DATANG, DAN DIA (ALLAH) MENYEMPURNAKAN NIKMATNYA PADAMU, DAN MENUNJUKIMU KE JALAN YANG BENAR, DAN ALLAH AKAN MENOLONGMU DENGAN PERTOLONGAN YANG DAHSYAT” (QS Al fath 1-3) (Shahih Bukhari)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata'ala, Maha Pencipta Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Cahaya Anugrah Allah yang terbesar dari seluruh Anugerah Ilahi, yang menuntun sedemikian banyak hamba-hambanya menuju kebahagiaan, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, yang tidak akan tercapai kecuali melewati Sang Penuntun kepada kebahagiaan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, di utus Allah untuk menuntun hamba-hamba Allah menuju keluhuran, menuju kebahagiaan, menuju kemudahan, menuju kesucian, menuju khusyuk, menuju Cinta Allah, menuju rindu Allah, agar mereka di terangi cahaya kerinduan Allah, di terangi cahaya kasih sayang Ilahi, di terangi cahaya pengampunan, di terangi cahaya keluhuran, di terangi cahaya kemudahan, semua itu terbit didalam kebangkitan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, semua itu di kumpulkan Allah pada sosok Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقً

“sungguh Rasulullah saw Seindah indah manusia wahjahnya dan akhlaknya, akhlak yang terluhur mengungguli segenap akhlak” (Shahih Bukhari)

maka terangkatlah derajat para Aulia, wal Muqarabin (orang orang yg dekat dan dicintai Allah), wal Shiddiqin (orang orang yg jujur dan bersungguh sungguh dalam berbakti pada Allah), wa Syuhada wa Shalihin (orang orang yg shalih), menuju tangga-tangga keluhuran, tangga kemuliaaan, tangga kedekatan kehadirat Allah, tidak lain mereka capai kecuali mengikuti Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sampai mereka kederajat para Mahmubin.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad saw) jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammadvsaw), kalian akan sampai kepada cinta Allah, dan Allah ampuni dosa-dosa kalian dan Allah swt itu Maha Mengampuni dan berkasih sayang” (QS Al Imran 31 )

Cinta Allah berpijar pada gerak gerik dan tuntunan dan kalimat Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka beruntunglah dan tiada yang lebih beruntung dari para pecinta Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ،

Allah Berfirman : “Sungguh mereka-mereka yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah…, lalu ia beristiqamah, maka turunlah untuk mereka para malaikat untuk menenangkan mereka, jangan kalian taku dan jangan pula risau, sungguh kabar gembira bagi kalian bahwa kalian akan masuk sorga yg telah dijanjikan pada kalian QS Al Fusshilat 30)”

Aku dan kalian, ayat ini ketika ditanyakan kepada Sayyidina Abu Bakar bin Siddiq Ra, dijelaskan didalam Tafsir Imam Ibn Katsir dan lainnya, ketika ditanya ayat ini kepada Sayyidina Abu Bakar bin Siddiq Ra, siapakah yang dikatakan

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ

berkata Sayyidina Abu Bakar bin Siddiq Ra : “semua muslimin Ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang tidak menyembah selain Allah, yang Tuhannya hanya Allah, mereka termasuk didalam kelompok mereka yang berkata bahwa Tuhan kami adalah Allah.”
Lalu mereka berusaha untuk beristiqamah, Istiqamah adalah ringkasnya menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah semampunya dan menjauhi larangan Allah semampunya dan mempertahankannya. Namun di jelaskan oleh para Muhaditsin, bahwa usaha menuju Istiqamah adalah sudah mencapai derajat Istiqamah dan orang yang mengulang-ulang ayat ini dalam hidupnya maka ia termasuk dalam kelompok ahlul Istiqamah.

Lalu kalimat selanjutnya pada ayat itu : Allah turunkan untuk mereka para Malaikat.. menjaga mereka di masjid- masjid, majelis ta’lim, majelis Dzikir dalam ibadah mereka, di dalam khusyuk mereka, di dalam do’a mereka, malaikat mengaminkan mereka, turun malaikat untuk mengerubuni para mu’minin hingga menjauhlah para setan dan para jin, dan tiadalah yang lebih di takuti oleh setan, para Jin, dan Iblis melebihi hati yang berdzikir. Ketika hati sedang ingat Allah, itulah yang paling ditakuti oleh Syaitan, itu yang paling di takuti oleh Jin yang jahat, itu yang paling di takuti oleh Iblis, jika hati sedang mengingat Allah, cahaya berpijar membakar dan membunuh mereka.

Oleh sebab itu hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, para Setan berusaha agar keturunan Adam menjauh dari Dzikir, menjauh dari menyebut nama Allah, menjauh dari mengingat Allah, hingga mereka bebas menggoda, tapi kalau sudah jiwa mulai berdzikir mengingat Allah mereka berpencar dan lari menjauh, itulah kelemahan Syetan dan Iblis, dan itulah kekuatan terkuat dari seluruh angkasa raya Jagat ini.

Kekuatan terbesar di langit dan Bumi untuk Makhluk adalah dzikrullah, jika mereka mengingat Allah disaat itu Allah bersama mereka, maka siapa lagi yang bisa mengalahkannya dari alam semesta ini jika Allah sedang bersamanya, tentunya bukan bersama dengan dzat Nya tetapi bersama dengan sayang dan cinta Nya, kalau seseorang sedang di lihat Allah dalam keadaan cinta, siapa pula yang bisa menyentuhnya, makhluk ghaib dan makhluk yang dhohir tidak satupun bisa berbuat apapun kecuali kehendak Dzat Nya.

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah,
Namun sebagian besar para mufatsirin menjelaskan makna kalimat itu adalah turunnya para malaikat itu turun sangat banyak saat mereka akan wafat, makin di penuhi dan di kunjungi para malaikat, untuk menenangkan mereka adalah firman Nya yg disampaikan malaikat malaikat pada mereka jangan kalian takut, jangan risau, kau akan wafat dalam keluhuran, kau akan wafat dalam kemuliaan, jangan takut keturunan keturunanku, jangan takut berpisah dengan keluargamu, mereka akan di jaga Allah
kabar gembira untukmu adalah Surga, demikian orang-orang yang akan wafat dari para Shalihin ditenangkan Allah sebelum berpindah kealam barzakh

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Kamilah yang berjanji menjadi pemimpin kalian dan pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, (Allah yang selalu melindunginnya), dan bagi kalian kelak apa-apa yang kalian inginkan dan bagi kalian apa-apa yang telah dijanjikan” (QS AL Fushilat 31).

Sebagaimana Firman Allah, di dalam Surat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,
“Allah itu adalah pengaman, pelindung dan pemelihara orang-orang yang beriman dilindungi” , dan di sayangi, dan di Rahmati, dan di ampuni, dan di muliakan oleh Allah, sampai ia wafatpun kasih sayang Allah terus melindungi mereka, pengampunan Allah akan sampai kepada mereka, Ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, pengikut Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Pecinta Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, merekalah orang yang paling bercahaya kelak di yaummil qiyamah, merekalah orang yang paling beruntung di yaummil qiyamah, merekalah orang yang paling gembira di hari kiamat, orang tuanya mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

hadirin hadirat yang di muliakan Allah, bagaimana Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berakhlak yang mulia dan agung ini tentunya dengan kehendak Allah subhanahu wata'ala ,
Sungguh mereka yang berkata Tuhan kami adalah Allah…
Wahai Allah jadikan kami orang yang selalu menyebut Nama Mu Allahu Allah, Allah banggakan orang yang menyebut Nama Allah Allah, bahkan Allah selalu sampaikan pada Sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ

demikian riwayat Shahih Muslim
Tidak akan datang hari Kiamat hingga tak ada lagi dimuka bumi yang menyebut nama Allah,,, Allah.. , bukan tahun 2012, bukan ramalan orang-orang yang tidak menyembah Allah, namun hari kiamat akan datang jika di Bumi tidak ada lagi yang menyebut Nama Allah, itulah tanda hari kiamat yang pasti datang, jika Bumi masih ramai dengan Dzikir Jalallah (dzikir jalalah adalah dzikir Yaa Allah Yaa Allah), oleh sebab itu para ulama dan para Mujadid Akhir zaman Makmurkan Dzikir Ya Allah Ya Allah, karna sudah akhir zaman semakin dekat maka semakin dekatlah akhir zaman namun akan semakin mundur dan memuai usia dunia ini, selama gemuru Nama Allah masih di gemuruhkan di muka bumi.

Bayangkan Kehancuran alam semesta, jagat raya yang demikian luas di hancur leburkan oleh Allah subhanahu wata'ala, dengan kehendak Nya, dengan Kewibawaan Nya, dengan Keagungan Nya, dengan kehendak dan Kekuatan Nya, masih Allah tahan hanya karena seorang menyebut nama Allahu Allah. Jiwa satu orang ummat Muhammad menyebut Nama Allah tertahan dari bencana Kiamat.

Hadirin hadirat, jangan dengarkan ramalan, ramalan mama ini, mama itu, 2012 planet beradu, ramaikan nama Allah Allah maka usia alam ini akan berlanjut, janji Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam…!!

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Inilah dasyatnya jiwa yang berdzikir, satu jiwa yang berdzikir menahan musibah yang terbesar di alam semesta, apalagi musibah gunung meletus, musibah meteor, musibah banjir, kalau sudah jiwa mulai bangkit berdzikir sirna semua musibah, alam ini akan sirna dari musibah, namun semakin sedikit musibah yang terus mendesak dan banyak, maka Allah yang Maha Pengampun melihat hambanya terus berdosa tapi tidak mau istighfar dan bertaubat maka turunkan musibah, supaya terhapus dosanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Diriwayatkan di dalam riwayat yang Sighah (riwayat yg kuat) salah seorang ulama bermimpi melihat Allah akan menurunkan bala yang besar di kota Baghdad, karena di malam itu tercatat lebih dari 40 perzinahan terjadi dimalam itu di Kota Baghdad maka ia bangun dari tidurnya dan segera mengumpulkan murid-muridnya berdzikir ya Allah ya Allah ya Allah. Musibah tidak jadi turun, karena ia teringat hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tsb, bahwa Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Hadits Qudsiy “ Hampir saja Ku turunkan bala pada suatu kaum karena dosa-dosannya, maka Aku lihat mereka meramaikan dzikir, maka kujauhkan dan kusingkirkan bala dan musibah dari mereka.

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga kita termasuk orang yang selalu memperbanyak menyebut Nama Allah yang dengan itu hati kita pula terus memanggil nama Nya

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ،

Orang-orang yang menyebut Tuhan kami Adalah Allah lalu berusaha untuk mencapai Istiqamah maka diturunkan untuk mereka para malaikat-malaikat pelindung, agar mereka jangan risau di dunia dan di akhirat, di beri kabar gembira sebelum mereka wafat bahwa mereka akan masuk surga yang telah dijanjikan pada mereka”

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Kamilah yang berjanji menjadi pemimpin kalian dan pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, (Allah yang selalu melindunginnya), dan bagi kalian kelak apa-apa yang kalian inginkan dan bagi kalian apa-apa yang telah dijanjikan” (QS AL Fushilat 31).

Akulah kata Allah yang akan melindungimu di dalam kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat, dan di akhirat kelak apapun yang kalian kehendaki akan di beri oleh Allah, sebagian ulama berkata di dunia juga apapun yang mereka khendaki akan di beri oleh Allah tuk para Shalihin dan aulia Nya, karna Allah sudah berjanji di dalam Hadits Qudsiy riwayat Shahih Bukhari
“Jika ia minta kepadaKu Ku beri permintaannya, Dan jika ia berlindung kepada Ku Aku lindungi”
menunjukan bahwa keinginan mereka sudah banyak sekali di qabul dan di jamin Oleh Allah, di Qabulkan di dunia, lebih lebih lagi di akhirat.

Kalau di zaman Nabiallah sulaiman As, salah seorang ummatnya bisa mendatangkan singgasana Ratu Balgis dalam sekejap di hadapan Raja Sulaiman sebelum ia mengedipkan matanya di dalam Firman Allah di surat Annaml pada ayat 38,39 dan 40, Bahwa Allah subhanahu wata'ala menceritakan kejadian itu
“maka berkatalah seorang yang luas ilmunya akan kitabullah, Aku akan datangkan kepadamu singgasana itu sebelum kau mengedipkan matamu wahai Sulaiman, Dalam sekejap singgasana itu muncul dari dalam bumi,
dari Yaman di bawa ke Palestina di Masjidil Aqsho, di dekat situlah istanah singgasana Nabi Sulaiman As dan dalam waktu sekejap mata sudah ada didepan matanya”

Kalau ummat Nabi Sulaiman sudah bisa begitu, lebih-lebih lagi Ummat Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bukan dengan kekuatan Jin tentunya, karna Allah Berfirman dalam ayat itu :

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ.....

Seseorang yang punya ilmu, pemahaman dari kitabullah subhanahu wata'ala, bukan Ilmu Kebathinan, bukan ilmu untuk memanggil kekuatan Jin, karna kekuatan Jin kalah dengan orang ini, karna sebelumnya Jin sudah berkata : Wahai Sulaiman, aku datangkan singgasana Ratu Balqis kehadapanmu sebelum kau berdiri dari kursimu,
maka berkata pula seorang yg berilmu dari kitabullah swt itu : “Wahai Sulaiman Aku mampu mendatangkannya sebelum Kau kedipkan matamu”
Dalam sekejap sudah sampai singgasana Ratu Balqis itu di pindahkan menuju kerajaan Nabi Sulaiman, bukan duduk di singgasana itu, ia datang dari Yaman perjalanannya bertamu untuk mnyerahkan diri, berkatalah Nabi Sulaiman (pada QS Annaml 38) berkata “Siapa yang bisa membawa singgasana Ratu Balgis sebelum mereka datang untuk menyerahkan diri padaku.
Sebab awalnya Salah seekor burung yang menjadi pengikut Nabi Sulaiman, Mencari-cari wilayah-wilayah yang menyembah selain Allah, menyembah berhala, membawa laporan, di Yaman ada kaya raya di pimpin seorang wanita yaitu Ratu Balqis, Ratu wanita itu kerajaannya luas dan besar, Nabi Sulaiman punya firasat bahwa di yaman mesti ditundukkan sebelum terbitnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka kerajaan Ratu Balqis harus di tundukkan.

Maka berkatalah Nabi sulaiman, “kirimkan surat untuknya” inilah surat dari Sulaiman : Bismillahirrahmanirrahim, maka ia tunduk kepadaku,
maka Ratu Balqis didalam surat Annaml menjelaskan kepada para pengikutnya Allah menceritakan, Ratu Balgis berkata “jangan kita perang dengan kerajaaan ini, biasannya kalau perang kerajaan satu dari kerajaan lainnya, pasti yang kalah akan dihinakan dan yang mulia akan dijadikan orang-orang yang terhina harta akan dirampas sudah, ya sudah lebih baik kita kirimi hadiah saja kepada Raja sulaiman As”, Raja Sulaiman yaitu Nabi Sulaiman As bin Nabiallah Daud As.

Maka Nabi sulaiman menerima hadiah, Nabi sulaiman berkata “kamu membawakan hadiah ini, kalian kira kami gembira dengan hadiah ini, hadiah ini tiada berarti bagiku” kembali katakana kepadanya,” jika ia tidak menyerahkan kerajaan Yaman maka aku akan datang dengan pasukan yang mereka tidak mampu menolaknya” dengan pasukan dasyat, pasukan manusia, Jin, hewan, angin dan seluruh kekuatan Allah yang di berikan kepada Nabi Sulaiman As, dengan tentara yang belum pernah mereka lihat, maka Nabi Sulaiman berkata “Ayo coba siapa yang bisa datangkan singgasana Ratu Balqis kesini sebelum dia sampai disini”, singasananya didatangkan dalam sekejap mata, tidak lama Ratu Balqis datang, maka berkata Nabi Sulaiman, “inikah singgasanamu ?” tampaknya iya betul ini singgasanaku kata Ratu Balqis, “ini Singasanamu, sudah kubawa duluan kesini karna kau akan tinggal disini” kata Nabi Sulaiman tidak balik lagi kenegrimu Yaman sana, tinggal disini.
Maka Ratu Balqis memasuki istanah Sulaiman, ia menyingkapkan pakaiannya sedikit karna melihat dia harus berjalan diatas air, Maka Nabiallah berkata bahwa itu adalah Marmer yang bening, yang belum pernah dilihat dimasa itu, dipikir air, makanya ia menyingkapkan pakaiannya sebetis sedikit, dikira akan menceburkan kakinya di air padahal itu adalah marmer yang sangat indah, sangat bening bagaikan air Maka ia berkata, Aku beriman kepada Tuhannya Sulaiman, maka Sulaiman aku beriman kepada Allah bersama Nabi Sulaiman As. (Rujuk QS Annaml 20 s/d 44)

Hadirin Hadirat, Demikianlah rahasia kemuliaan dari zaman kezaman, bagi mereka yang mengatakan Rabbunallah, tunduk semua kekuatan, tunduk semua kekuasaan, tunduk semua kemuliaaan dibawah keagungan Nama Allah, Lantas mereka beristiqamah turun para Malaikat membantu mereka dalam kesibukannya, Kamilah yang melindungi dan menjaga kalian di dunia dan di akhirah dan bagi kalian apa yang kalian inginkan dan apa yang dijanjikan bagi kalian, Itukah hati yang agung dari Sang Maha Pengampun, Maha Berkasih sayang,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Adakah orang yang lebih indah ucapannya selain orang yang mengajak untuk dekat kepada Allah?Dan mengajak orang-orang untuk beramal Saleh dan Dia mengatakan Sungguh aku adalah Muslimin (QS Al Fusshilat 34) Ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat ajaklah orang agar dekat kepada Allah dengan ucapan, dengan sms, dengan surat, dengan email, dengan telpon, teruslah ajak mereka untuk temuliakan dengan ibadah, terjauhkan dari maksiat dan kemungkaran, karna dengan itu kau termasuk kedalam orang yang difirmankan Allah, bahwa tiada yang lebih mulia dari mereka.
Siapakah? Adakah ucapan yang lebih indah dari orang yang mengajak kepada Allah, untuk dekat kepada Allah dan beramal saleh.

Namun caranya diajari oleh Allah :

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tidak sama pahala dengan dosa, balaslah kejahatan dengan yang lebih baik, jika ada yang diantaramu dengannya permusuhan maka jadilah seakan ia teman akrab bagimu” (QS AL Fusshilat 35)

dosa adalah kegelapan, pahala adalah keluhuran, tidak sama, Namun orang-orang yang baik diantara kalian kata Allah, orang yang beriman para penyeru di jalan Allah jangan balas kejahatan dengan kejahatan, Dan Orang-orang yang membuat permusuhan antara kau dengan mereka Seakan-akan dia itu adalah sahabat yang akrab bukan musuh.

Hadirin hadirat demikian indahnya para penyeru di jalan Allah, para ahlul Istiqamah, budi pekerti mereka tidak membalas kejahatan dengan kejahatan kecuali untuk membela diri, dan mereka memperlakukan musuhnya seakan-akan teman akrabnya, demikian di jelaskan kepada para mufasirin
seakan-akan musuhnya itu dianggap teman akrabnya, diperlakukan seperti teman akrabnya, mampukah kau sampai ke hal ini, Semoga Allah menyampaikan kita kepada orang-orang yang mempunyai hakikat jelas dalam menyebut Nama Allah.

Sampailah kita kepada Sabda Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, disaat Rasul datang dalam keadaan gundah, diajak bicara tidak menjawab oleh Sayyidina Umar bin Khatab diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, hari pertama, hari kedua, hari ketiga maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“semalam telah terbit, bagiku turun ayat yang membuat aku sangat gembira, membuatku lebih gembira dari pada terbitnya matahari”
Maksudnya apa? Para ulama diantaranya Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari dan lainnya mensyarahkan makna hadits ini, bahwa :
seakan-akan tiada ayat yang lebih membuat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam gembira dari ayat ini, sangat membuat Rasul gembira sehingga beliau berkata “aku lebih gembiradengan turunnya ayat ini dari terbitnya matahari” padahal terbitnya matahari itu maksudnya diumpamakan di dalam fathul baari sebagai terbitnya segala kebaikan, tapi Rasul lebih senang pada ayat ini lebih dari pada terbitnya matahari,

apa ayat itu :

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ، مَا تَقَدَّمَ، مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ، وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ، وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ، نَصْرًا عَزِيزًا

“Sungguh kami berikan bagimu kesuksesan, “Fatha” itu bisa jadi kemenangan, bisa jadi kebahagiaan, bisa jadi keberhasilan, tapi bisa kita ungkap dengan satu kalimat ringkas kesuksesan dalam perjuangan.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Kami berikan bagimu kesuksesan demi kesuksesan yang Agung”

maksudnya apa? Kesuksesan Rasul tidak untuk beliau sendiri, kalau kesuksesan yang bukan kesuksesan yang مُبِينًا yang agung yang mulia, Nabi terdahulu juga sukses dakwahnya banyak orang-orang yang dari ummatnya, ada yang luhur, ada yang mengikuti. Demikian para Nabi demikian Nabi terdahulu, namun Sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah wafatnya sukses semakin luas, ummatnya semakin banyak bukan semakin habis, inilah kesuksesan فَتْحًا مُبِينًا karna diteruskan kesuksesan rahasia kesuksesan itu, rahasia kemenangan itu, rahasia keberhasilan itu, sukses dengan bekesinambungan, kepada para pejuang yang membela dan ingin menyebarkan tuntunan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bagi mereka kesuksesan kata Allah, asal jalannya benar, kalau ada salah maka di patahkan oleh Allah subhanahu wata'ala, kalau jalannya benar maka dia diberi kemuliaan kepada Allah فَتْحًا مُبِينًا belahan dari kesuksesan yang Allah berikan kepada Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا، لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ، مَا تَقَدَّمَ، مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ

Al Imam ibn Katsir di dalam Tafsirnya menafsirkan makna ayat ini, banyak penafsirannya, diantaranya adalah juga Imam Qurtubi punya penafsiran, Imam Thobari punya penafsiran yang sedang saya nukil adalah penafsiran dari Imam Ibn Katsir juga penafsiran Imam Qadhi iyadh didalam kitabnya Asy Syifaa bahwa yang makna ini :
“Agar Allah ampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang”
yang dimaksud bukan dosa-dosa Nabi yang terdahulu dan yang akan datang, kalau yang dimaksud adalah dosa-dosa Nabi, semua Nabi tidak berbuat dosa, dan untuk apa Allah sebutkan dalam ayat dosa yang lalu dan dosa yang akan datang, Nabi sudah Istighfar setiap hari 100 kali bertaubat kepada Allah, Jadi yang dimaksud yang lalu-lau adalah dosa ayah bunda beliau sampai Nabiallah Adam dan sayyidatuna Hawa As, mereka mendapat pengampunan dengan turunnya ayat ini, pupus semua seluruh dosa-dosa ayah bunda Nabi dan nenek moyangnya dan sampai Nabiallah Adam as dan juga dosa-dosamu yang akan datang, sebagian pendapat mengatakan pengampunan berlaku untuk seluruh keturunan Rasul hingga akhir zaman, pendapat lain mengatakan untuk para pencinta Rasul sampai akhir zaman, pendapat lain mengatakan untuk seluruh ummat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam di akhir zaman.

Pengampunan sudah di beri oleh Allah, sudah ada pengampunan, yang ada tinggal barangkali pembebasan dan pengikisan dosa dan pengangkatan drajat , bisa merupakan musibah di dunia, bisa berupa siksa kubur, bisa berupa siksa Neraka, tapi pengampunan sudah di jaminkan untuk oaran-orang muslimin Ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam selama ia wafat tidak didalam kekufuran, tidak menyekutukan Allah subhanahu wata'ala.

Maka Rasul sangat gembira, Pengampunan turun dari mulai Nabiallah Adam as sampai Ummatnya akhir zaman

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ، مَا تَقَدَّمَ، مِنْ ذَنْبِكَ، وَمَا تَأَخَّرَ، وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Dan Allah sempurnakan kenikmatannya untukmu, apa kenikmatan yang Allah berikan untuk Sang Nabi, kenikmatan yang Allah berikan untuk Sang Nabi adalah kebahagiaan ummatnya, terangkatnya derajat ummatnya, di beri Cinta dan kasih sayang untuk ummatnya di dunia dan di akhirat, itulah sempurnanya kenikmatan Sang Nabi.

Nabi butuh kenikmatan apa? tiga hari tidak makanpun beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersyukur kepada Allah, lalu kenikmatan apa yang membuat Allah katakan :

وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

“Ku beri kesempurnaan atas kenikmatan untukmu”

وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

“Memberimu petunjuk kepada jalan yang lurus”

untuk beliau dan pada para pecinta beliau selanjutnya, kenikmatan dengan berlimpah dan jalan kebenaran akan di tunjukan dan di tegakan.

وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ، نَصْرًا عَزِيزًا

Demikian Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Oleh sebab itu para Salafushaleh menjadikan ayat ini selalu di ulang-ulang dalam pembacaan rawi Maulidin Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karna ayat ini mengandung rahasia kegembiraan Sang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, paling gembira dengan turunnya ayat ini dari semua ayat yang lainnya, maka ayat ini di baca surat Al Fath ayat 1-3, kita kalau melihat didalam maulid itu ayat ini dibaca lalu ayat ke dua, ayat yang paling menggembirakan kita, dua ayat terakhir pada surat Attaubah, apa ?

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

lalu yang terakhir pada surat Al Ahzab:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Tiga ayat :
pertama ayat yang paling menggembirakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ayat yang membuka kemenangan, keberkahan, dan pengampunan bagi Ummat.
Yang kedua adalah dua ayat terakhir pada surat Attaubah, yaitu ayat yang paling mengembirakan kita Ummat beliau, dengan datangnya Nabi yang dikenalkan Allah sangat perduli dengan musibah dan kesusahan kita. Dan memberikan pengamanan dari Allah swt, bagi orang yang mendapatkan musuh-musuh yang tidak mau taat, yang tidak mau tunduk, yang menyakiti mereka,
Maka Allah subhanahu wata'ala yang akan melindunginya, lalu ayat selanjutnya adalah menuntun kita menuju kedekatan kita kepada Allah dan Rasul dengan bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Tiga surat di padu, awal Surat Al Fath, akhir surat Barakah yaitu surat At taubah lantas yang ketiga adalah Surat Al Ahzab, dari tiga surat ini di padu sudah cukup tumpah ruah keluhuran untuk kita, belum lagi kalau di teruskan kesananya baru syair syairnya.

Terus Zaman sekarang di baca itu di protes, Masya Allah.
pertama kali yang protes itu setan sebenarnya memperbanyak membaca ayat ini di bilang Bid’ah, Subhanallah, Kita mau turun kepada kita keberkahan, pengampunan, kita baca kita mendapat keberkahannya, kita dapat pula kemuliaan lagi dengan ayat di tambah, لَقَدْ جَاءَ كُمْ رَ سُو لٌ dapat kemuliaan dengan ayat berita soal kedatangan Rasul saw, namun mereka sebagian tidak mau, dan di bilang bid’ah.

Hadirin Hadirat membaca Al Qur’an di bilang Bid’ah, maulidinabi di awali dengan Al qur’an, dan isinya penuh dengan sejarah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam.

Maulid Dhiya’ulami dari awal hingga akhirnya penuh dengan perhitungan-perhitungan yang jelas dari sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Lihat yang pertama:

يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد حَبِيبِكَ الشَّافِعِ الْمُشَفَّع

hitung berapa bait itu 12 Bait (tanggal 12 kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam),

lalu selanjutnya apa?:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينَا

itu digabung dari tiga surat, Surat Al Fath, Surat At taubah, Surat Al Ahzab menandakan lahirnya Rasul bulan tiga yaitu Rabi’ul awal,

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
hitung baitnya berapa? jumlahnya sampai 63, tanda usia Rasul 63 tahun, itu semua penuh dengan rahasia kemuliaan sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, berapa jumlah peperangan beliau saw, berapa banyak jumlah Ahlul Badr, dan demikian indahnya tuntunan dari guru Mulia kita Al Musnid Al Alamah Al Habib Umar bin Hafidz di dalam kitabnya Dhiya’ulami, yang merupakan salah satu maulid yang selalu kita baca setiap malam selasa ini.

Hadirin Hadirat yang dimulikana Allah,
Hujan rahasia keluhuran-keluhuran, yang merupakan penuntun kepada keindahan, kepada keindahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi kita.

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah,
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk hidup yang sederhana, banyak yang menanyakan kepada saya Habib bagaimana kalau akad nikah dengan bermewah mewahan boleh atau tidak?
Hal itu hal yang tidah dilarang Hadirat dalam syari’ah, tetapi jika ingin Sunnah
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda di dalam Shahih Bukhari : “Nikahlah walau hanya dengan mahar dari cincin besi”
Cincin besi di jalan bisa di cari, dengan seperti itupun pernikahan sudah Sah, nikahlah jangan sampai tertahan pernikahanmu hanya karna harta, demikian himbauan Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, karena kebahagiaan itu milik Allah.

Diriwayatkan didalam shahih Bukhari, Seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “wahai Rasulullah aku hadiahkan diriku untukmu”, maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam diam, datang seorang sahabat, “ya Rasulullah, nikahkan aku dengannya” Rasulullah diam, “kau punya apa? Kau punya harta ?” tidak ya Rasulullah, tidak punya harta, “walau cincin dari besi..??” tidak punya ya Rasul, “punya baju?” punya Cuma ini yang kupakai, kalau kujadikan mahar maka aku tidak pakai baju, maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam diam, dilihat pada wanita itu “kau mau menikah dengannya?” wanita itu berkata, “aku sudah hadiahkan diriku padamu ya Rasulullah, terserah engkau mau taruh aku di laut boleh, mau melemparkan aku kemana, aku taat. Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam berkata melihat ke pria ini “kau mempunya hafalan alqur’an?” punya ya Rasulullah, “kunikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar kau harus ajari dia Al Qur’an, hafalannya beberapa ayat”
menikahlah mereka, Allah melimpahkan keberkahan bagi pernikahan itu hingga di kemudian hari mereka di limpahi harta, kekayaan dan keturunan salihin dan salehat, dari situ para ulama mengambil qiyas, daripada Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam,
Semulia-mulia dan seberkah-berkahnya mahar akad nikah adalah yang paling kecil jumlahnya, berbeda dengan hadiahan, hadiahan mau di hadiahi rumah, mobil, terserah, boleh boleh saja, tapi ini bicara jumlah mahar, kalau mahar semakin rendah jumlahnya, semakin berkah.

Namun para ulama kita, di Hadramaut para salafushaleh tentunya guru-guru kita, sudah memberikan satu kadar Tawasuth (tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi) yaitu 5 ogi perak, dengan timbangan resmi wilayah Tarim, itu kalau di rupiahkan kira-kira 50 ribu. Sebagian besar di Negara kita, sebagian besar yang menikahkan mereka rata-rata maharnya 50 ribu, itu adalah yang diambil keputusan oleh para ulama kita. (namun bukan mesti sedemikian itu jumlahnya)

Hadirin hadirat,
Semakin sulit keadaan kita semakin mudah islam menuntun kita, semakin kita berada di dalam kesusahan semakin islam mempermudah keadaan kita, itu didalam masalah Nikah, dan lagi masalah lain orang yang sedang sakit dan orang yang sedang tidak menemukan air, Tanya kepada Rasul “ya Rasulullah kami Qodho shalatnya atau gimana?” Rasul berkata “Tetap Shalat” Tidak ketemu air atau sakit tidak bisa disentuh air, cukup engkau seperti ini lalu dia mengumpulkan kedua telapak tangannya kebumi, mengusapkannya ke wajah, lalu mengumpulakannya lagi mengusapkan ketangan kanan dan tangan kirinya, selesai.
Anggota Tayamum itu ada berapa ? dua, Wajah dan tangan sampai siku, jangan salah.
jadi anggota wudhu tentunya bukan hanya wajah dan tangan tapi kalau tayamum, jangan kaki di Tayamumin juga tidak ada rukunnya, rukunnya hanya dua saja, yaitu wajah dan kedua telapak tangan. kapan niatnya? saat mengusapkan tanah kewajah kita,
kenapa ? Allah tidak mengajari kemudahan, Rasul juga tidak mau kita berlumur tanah, maka setelah di kumpulkan ketanah maka tangan itu sunnah untuk diadukan satu sama supaya butiran-butiran besarnya jatuh, tinggal debu-debu kecilnya saja, itu yang di usapkan ke wajah sambil niat tayamum, sunnah menghadap kiblat, dan jangan Tayamum didalam Masjid, tidak sah tembok dalam masjid karna tanah wakaf, tanah wakaf tidak boleh untuk di pakai tayamum.

Demikian Hadirin hadirat, Kita lihat betapa Sulitnya keadaan kita, semakin Mudah Syariat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seraya bersabda : Demikian Riwayat Shahih Bukhari, “Berilah kabar gembira, dan permudahlah orang-orang janganlah dipersulit didalam syari’ah ini, maka jangan kalian buat mereka makin menjauh, dekatkanlah dekatkanlah”

Hadrin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian Indahnya tuntunan Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kedatangan kita ketempat ini, sudah berbuat Insya Allah kaki kita di haramkan dari api Neraka,
Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Allah berfirman : Allah telah haramkan kedua kaki yg berdebu untuk dibakar api Neraka jika melangka dijalan Allah subhanahu wata'ala.
Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari mensyarahkan hadits ini, yang dimaksud Fisabilillah itu bukan hanya di jalan peperangan, karna Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda itu adalah saat beliau keluar menuju Shalat Jum’ah, maka menunjukan semua jalan menuju tempat ibadah, apakah Masjid, Majelis Ta’lim, Majelis Dzikir, masuk kedalam Hadits itu.

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah,
Semoga Allah subhanahu wata'ala mengharamkan api Neraka untuk kita, seraya berfirman dalam akhir surat Alfajr :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Wahai yang mempunya jiwa yang tenang, kembalilah kepada Pemilikmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah dalam kelompok para pengabdi Ku, dan masuklah sorga Ku"

Siapa jiwa yang tenang? Jiwa yang sering berdzikir kepada Allah, Menunjukan jiwa yang tenang itu adalah jiwa yang banyak berdzikir kepada Allah, Kembalilah, kembalilah kepada Allah dan tinggalkanlah kehinaan menuju keluhuran dalam keadaan Rido dan kau akan di redoi oleh Allah, jangan mau mengabdi kepada Tuhan selainKu, masuk kedalam kelompok orang yang beribadah kepadaKu, dan masuklah kedalam Surgaku, orang-orang yang berjuang untuk mencapai itu, maka sebelum ia wafat ia sudah mendapatkan kabar itu.

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Abdullah bin Abbas Ra, ketika ia wafat terdengar suara dari dalam kuburnya, suara ayat itu tanpa wujud, Para Mufassirin (Ahli Tafsir) menjelaskan ayat ini, turun kepada para salihin untuk memberi kabar kepada mereka, hajad-hajad mereka,

Hadirin Hadirat yang dimuliakan Allah,
semoga tidak satupun dari kita ketika wafat kecuali sebelumnya kita dengar ayat ini,
Semua kita yang hadir, semoga nanti waktunya kalau akan wafat, sudah mendengar seruan ini lebih dahulu sebelum ia menghembuskan nafas yang terakhir, Amin Amin ya Rabbal’alamin, maka ia akan disambut oleh Allah dengan hangat dan Indah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Penyampaian saya yang terakhir adalah, Allah subhanahu wata'ala memberikan anugrah kepada kita guru, guru adalah panutan yang layak kita panut dan kita muliakan, guru adalah ayah Ruh, sedangkan ayah kita adalah ayah Jasad, guru adalah pewaris para Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, selama guru itu berjalan di jalan yang benar dan dia memanut gurunya, jadi banyak pertanyaan kepada saya tentang bagaimana caranya menjadi guru yang baik.

Hadirn hadirat, guru yang baik itu adalah guru yang berusaha mengamalkan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan banyak para murid yang tidak mengerti, perbuatan gurunya itu sebenarnya perbuatan sunnah Rasul yang tidak di ketahui karna ia tidak tau, maka itu dia bertanya pada gurunya “guru setau saya di hadits begini, kenapa guru begini?” oh begini ada Hadits lain, ini kenapa saya memilih ini” hal seperti itu penting, dan ikuti guru yang mengikuti gurunya, kalau sudah guru tidak mengikuti gurunya, maka hati-hati guru ini dapat guru dari mana? sedangkan gurunya dapat dari yang lain, siapa guru yang lain.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah,
Jangan-jangan gurunya Syaitan, diliat gurunya mengikuti gurunya, berarti dia bisa belajar kepada guru dari gurunya, gurunya siapalagi diatasnya lagi, oh Imam anu, Syekh anu, dari anu, besar sanat gurumu 3 saja cukup apalagi Sanatnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. sekarang banyak guru yang mengaku “saya bersambung kepada Rasulullah, tapi mengikuti gurunya tidak? Kalau dia tidak mengikuti gurunya maka tentunya kita juga berfikir, walaupun kau punya seribu sanat, kalau tidak mengikuti gurunya berarti siapa, sanatnya kemana.

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah,
Hati-hati mengikuti guru, kalian itu kalau berguru itu seakan-akan sedang makanan untuk ruh kalian itu, kitakan kalau makan kita lihat apa yang kita makan, apakan makanan itu halal atau haram, apakah yang kita makanan ini racun apakan makanan yang bermanfaat, kalau jasad saja begitu, lebih-lebih ruh, di dalam mencari guru yang benar, guru yang baik mengikuti ahlusunah waljamaah, yang memang tidak berbeda dengan guru yang lain sama tuntunannya, baik orangnya yang mengamalkan amalan-amalan sunnah, dan walaupun tidak sempurna, tiada manusia yang sempurna, dia mengikuti gurunya, mencintai gurunya, di cintai gurunya, demikian gurunya juga orang mulia, gurunya lagi juga berguru pada gurunya.

Demikian Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Kita Insya Allah sanat kita bersambung kepada Guru Mulia al Musnid Al alamah Al Habib Umar bin Hafidz, beliau ini tentunya sama sanatnya denagn para imam-imam besar, di Jakarta maupun di seluruh Indonesia, dari para Habaib, dan para Ulama, dan Para Khiyai, sanatnya bersambung kepada Syekh Tabbani, Al Habib Ali bin Muhammad Abdurrahman Al Habsyi kwitang, kepada Habib Salim bin Jindan, kepada Habib syekh Ali allatos, kepada Habib Umar bin Hud, Habib Salim alathos, pada Salafushalihin, banyak para-para ulama dan khiyai, yang sanatnya satu persatu bersambung dan bersambung kembali kepada satu sanat hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Hadirin hadirat, mengikuti gurunya itu sangat mulia, maka kita makmurkan acara kita, walau Cuma kebagian 1 acara saja yaitu 17 Juni, kita berbakti kepada Guru kita, guru mulia kita untuk meramaikannya, dengan mengajak teman-teman kalian, ikut kebetulan bisanya cuma ikut pada guru mulia dalam 1 acara, ingat Nabiallah Musa As, yang Allah subhanahu wata'ala beri teguran, Nabi Musa berkata “adakah yang lebih alim dari engkau?” tidak ada “aku orang yang paling alima” Maka Allah menurunkan Jibril “ada orang yang lebih alim dari engkau wahai Musa” siapa tunjukan “ Khidir As” “dimana bisa kutemukan?” di pecahan antara dua laut, Maka Nabi Musa pun mencarinya, di dalam surat Al Kahfi, jumpa dengan Nabiallah Khidir, bagaimana adab seorang Rasul, Nabi Musa lebih tinggi derajatnya dari Nabi Khidir dihadapan Allah, karna Nabi Musa adalah Rasul, Nabi Khidir adalah Nabi, Nabi Musa lebih tinggi derajatnya namun karna ingin belajar ia berkata,
“bolehkah aku ikut engkau untuk mendapatkan ilmu yang telah Allah berikan padamu”,

ini ucapan seorang Rasulullah As, Nabi Khidir yang padahal derajatnya di bawahnya, di dalam kedekatan kepada Allah, namun Nabi Khidir mempunya ilmu-ilmu yang tidak di ketahui Nabi Musa, Nabi Musa ingin belajar
“bolehkah aku ikut denganmu tuk belajar ilmu-ilmu yang Allah berikan kepadamu”,

Maka Nabi Khidir as berkata : kau tidak akan bisa sampai ikut aku, kenapa karna beda jalannya, Nabiallah Khidir di jalan Makrifah, Nabiallah Musa dengan jalan syari’ah sebagai Rasul As, Namun kita lihat adab seorang Rasul, bahkan seorang Nabi ingin belajar kepada yang dibawah derajatnya.

Demikian pula adab Al Imam Fakhrul wujud Abu Bakar Bin Salim alaihi rahmatullah, ketika dikatakan oleh gurunya bahwa “siapa itu Fakhrul wujud?, fakhrul wujud Abu bakar bin salim tidak menyamai seujung kukuku ini..!!, seperti ujung kukuku..!!” ini kata gurunya, maka sampai kabar kepada al Imam Fakhrul wujud Abu Bakar bin Salim, Abu Bakar bin Salim sujud sukur, lalau dia berkata, ditanya oleh murid muridnya : “koq sujud syukur Kau di hina oleh gurumu?, dikatakan kau seujung kukunya” dia berkata “aku bersyukur pada Allah sujud, aku sudah seujung kuku guruku, itu kemuliaan besar bagiku” demikian adab dari Imam Fakhrul Wujud Abu Bakar Bin Salim alaihi Rahmatullah kepada gurunya, sehingga dia memuliakan oleh Allah subhanahu wata'ala, melebihi gurunya hingga Allah memuliakan dia hingga dia melebihi gurunya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
Demikian indahnya, Juga Imam Ahmad bin Hambal alaihi Rahmatullah berkata 30 tahun aku mendo’a guruku itu, yaitu Al Imam Syafi’i, tiap malam selama 30 tahun mendoakan guruku, sehingga ia akhirnya sampai kepada kelompok Huffadhudduniya (orang-orang yang paling banyak hafalan haditsnya), di seluruh dunia ini diantaranya Imam Ahmad bin Hambal alaihi Rahmatullah, hadirin hadirat banyak contoh akan hal ini, banyak kemuliaan akan hal ini.

Kita semua masing-masing mempunya guru, masing-masing memilih guru, di wilayah-wilayah kalian, namun hati-hati memilih guru, siapa gurunya apakah ia mengikuti gurunya, apakah gurunya Cuma Google atau yahoo.com hati-hati pada guru-guru yang seperti itu, akhirnya semuanya Bid’ah, semuanya syirik dan lain sebagainya, padahal Cuma nukil-nukil saja di internet, guru yang seperti itu tidak usah dijadikan guru, dijadikan teman saja, boleh nasehati dengan baik.

Demikian Hadirin hadirat yang dimulikan Allah,
Kita Mohon Rahmatnya Allah subhanahu wata'ala dengan keberkahan, agar Allah subhanahu wata'ala melimpahkan Rahmatnya kepada kita, Wahai Rabbiy kalau seandainya kami terlalu banyak berbuat dosa dan tidak pantas mendapatkan kasih sayang Mu, maka sungguh itu dari segi kami, namun dari segi Engkau, Engkau telah berfirman :

“Rahmat Ku sampai kepada segala sesuatu”
Kami adalah bagian dari sesuatu, maka kami telah Kau janjikan mendapatkan Rahmat Mu,

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا ...

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Seluruh hajad, seluruh dosa, seluruh musibah, seluruh kesulitan, seluruh permasalahan, kami benamkan kepada keAgungan samudra Nama Mu

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Seluruh takdir dan kejadian, berawal dan berakhir dari Nama Mu,

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Matahari kebahagiaan yang abadi, matahari kelembutan yang tiada pernah sirna, matahari kasih sayang yang tiada pernah padam, matahari pelimpah anugrah yang tiada berhenti,

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Kami minta dekat kepada Mu, kami minta di cintai oleh Mu, kami minta di sayangi oleh Mu,

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Kami minta kedekatan kepada Mu, kami minta kelembutan Mu, kami minta kasih sayang Mu, kami minta Cinta Mu
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله... ياَ الله..

Adakah diantara kalian yang pernah meminta cinta Nya ? Adakah di antara kalian yang meminta kelembutan Nya ? adakah pernah kau berdo’a minta dekat kepada Nya ? maka malam ini mohonlah

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. يَا الله...يَا الله...
ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم .. ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...
لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Hadirin hadirat saya mohon maaf, waktunya saya berpanjang bicara karna dari tadi nahan sakit tidak bisa berdiri, tidak berenti bicaranya karna tidak berhenti sakitnya tidak berenti jadi bicaranya tidak berenti, Alhamdulillah dengan do’a kalian selesai juga, Insya Allah dengan keberkahan majelis ini semua penyakit kita di beri kesembuhan, Amin Allahumma Amin. kita teruskan dengan Qasidah, memohon pada Allah subhanahu wata'ala, bertawasul kepada Ahlul Badr, agar di singkirkan dari segala musibah, dan di jauhkan dari segala kemungkaran bagi kita dan wilayah kita dan seluruh wilayah barat dan timur.

Tidak lupa pula kita ucapakan trimakasih kepada aparat keamanan, dari pihak Polsek, Polres dan Polda metro yang ikut mengamankan acara ini, semoga menjadi Rahmat dan keberkahan, juga panitia Masjid yang turut membantu dan mendukung penuh seluruh acara mulia ini, semoga dalam Rahmat dan Keberkahan, Dan juga para pewakaf Masjid ini, semoga mendapatkan kemuliaaan dari Allah subhanahu wata'ala, dan kepada para tetangga sekitar semoga di beri keberkahan dan kemuliaan oleh Allah subhanahu wata'ala.

Demikian Hadirin hadirat yang di muliakan Allah, malam minggu yang akan datang, malam sabtu, malam-malam lainya, terus saya menyarankan agar kalian memakai helm, agar menjadi contoh dan menjadi idola, bagi majelis-majelis lainnya, agar kita di panut oleh majelis lain, sudah majelis paling besar berantakan kelihatan sekali, kalau sedikit kan tidak kelihatan, kalau besar, ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu banyak yang berkeliaran kelihatan.

Hadirin hadirat, Jaga kehormatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jaga kehormatan Majelis kita yang namanya sangat Agung, sangat banyak di Komplane dari para Ulama, Namanya keberatan katanya, kalau saya bilang Majelis Ta’lim kalau keberatan Nama trus pakai nama yang jelek apa?, salahkah kita menamainya dengan Nama yang bagus, Hadirin hadirat kita lanjutkan dengan kalimat talqin oleh Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, tafaddhal masykuraa.




sumber
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=281&Itemid=1

istiqamah

عن أبي عمرو وقيل : أبي عمرة سفيان بن عبدالله الثقفي رضي الله عنه – قال : يا رسول الله , قل لي في الإسلام قولاً لا أسأل عنه أحداً غيرك, قال " قل آمنت بالله ثم استقم " رواه مسلم .

Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah radhiyallahu anhu, ia berkata : " Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah kamu’ “.

[Muslim no. 38]


Kalimat “katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu”, maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku satu kalimat yang pendek, padat berisi tentang pengertian Islam yang mudah saya mengerti, sehingga saya tidak lagi perlu penjelasan orang lain untuk menjadi dasar saya beramal. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Katakanlah : ‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ “. Ini adalah kalimat pendek, padat berisi yang Allah berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dalam dua kalimat ini telah terpenuhi pengertian iman dan Islam secara utuh. Beliau menyuruh orang tersebut untuk selalu memperbarui imannya dengan ucapan lisan dan mengingat di dalam hati, serta menyuruh dia secara teguh melaksanakan amal-amal shalih dan menjauhi semua dosa. Hal ini karena seseorang tidak dikatakan istiqamah jika ia menyimpang walaupun hanya sebentar. Hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya mereka yang berkata : Allah adalah Tuhan kami kemudian mereka istiqamah……”.(QS. Fushshilat : 30)
yaitu iman kepada Allah semata-mata kemudian hatinya tetap teguh pada keyakinannya itu dan taat kepada Allah sampai mati.

‘Umar bin khaththab berkata : “Mereka (para sahabat) istiqamah demi Allah dalam menaati Allah dan tidak sedikit pun mereka itu berpaling, sekalipun seperti berpalingnya musang”. Maksudnya, mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagian besar ketaatannya kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan dan mereka terus-menerus berbuat begitu (sampai mati). Demikianlah pendapat sebagian besar para musafir. Inilah makna hadits tersebut, Insya Allah.
Begitu pula firman Allah : “Maka hendaklah kamu beristiqamah seperti yang diperintahkan kepadamu”.(QS. Hud : 112)

Menurut Ibnu ‘Abbas, tidak satu pun ayat Al Qur’an yang turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang dirasakan lebih berat dari ayat ini. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda :
“Aku menjadi beruban karena turunnya Surat Hud dan sejenisnya”.

Abul Qasim Al Qusyairi berkata : “Istiqamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqamah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal”. Ia berkata pula : “Ada yang berpendapat bahwa istiqamah itu hanyalah bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqamah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ‘Istiqamahlah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang’.

Al Washiti berkata : “Istiqamah adalah sifat yang dapat menyempurnakan kepribadian seseorang dan tidak adanya sifat ini rusaklah kepribadian seseorang”. Wallaahu a’lam.



Hadits Arba'in An-Nawawi
Dengan Syarah Ibnu Daqiqil 'Ied